Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
Panduan lengkap untuk memahami PJB — dari definisi hingga penanganan — disusun berdasarkan pedoman medis terkini.
Estimasi waktu baca: ± 18 menit
Apa Itu Penyakit Jantung Bawaan?
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktural pada jantung atau pembuluh darah besar yang terjadi sejak lahir, akibat gangguan perkembangan jantung pada masa kehamilan. PJB merupakan cacat bawaan paling umum dan menjadi penyebab utama kematian bayi akibat cacat lahir di Indonesia.
Jantung janin mulai terbentuk sekitar 3 minggu setelah pembuahan dan selesai berkembang pada minggu ke-8 kehamilan. Gangguan pada periode kritis inilah yang dapat menyebabkan berbagai bentuk kelainan struktural jantung.
Angka kejadian PJB secara global berkisar antara 8 hingga 10 dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia, dengan sekitar 4,5 juta kelahiran per tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 bayi baru lahir dengan PJB setiap tahunnya.
Anatomi Jantung Normal
Untuk memahami PJB, penting untuk mengenal anatomi jantung yang normal. Jantung memiliki 4 ruangan: 2 serambi (atrium) di bagian atas dan 2 bilik (ventrikel) di bagian bawah.
Atrium Kanan
Menerima darah kaya CO₂ dari seluruh tubuh melalui vena kava
Atrium Kiri
Menerima darah kaya O₂ dari paru-paru melalui vena pulmonalis
Ventrikel Kanan
Memompa darah ke paru-paru untuk oksigenasi melalui arteri pulmonalis
Ventrikel Kiri
Memompa darah beroksigen ke seluruh tubuh melalui aorta
Catatan Medis Penting
Fakta & Angka
Angka kejadian global
Perkiraan di Indonesia
PJB butuh intervensi segera
Dapat hidup normal dengan penanganan tepat
Di Halaman Ini
Jenis-jenis PJB
PJB diklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya sianosis (kebiruan) pada bayi.
PJB Non-Sianotik
Tidak ada kebiruan nyata
Aliran darah berlebih ke paru-paru atau obstruksi tanpa pencampuran darah vena-arteri yang signifikan. Lebih umum (~70% dari semua PJB).
PJB Sianotik
Kulit/bibir kebiruan
Terjadi pencampuran darah kaya oksigen dan darah miskin oksigen, menyebabkan kadar O₂ rendah dalam darah arteri. Memerlukan penanganan lebih segera.
Kelainan PJB yang Paling Umum
Ventricular Septal Defect
Non-Sianotik ~30–35% kasus PJBLubang pada sekat antara bilik kiri dan kanan jantung. Merupakan PJB yang paling sering terjadi. VSD kecil dapat menutup sendiri, sementara yang besar memerlukan operasi.
Atrial Septal Defect
Non-Sianotik ~10–15% kasus PJBLubang pada sekat antara serambi kiri dan kanan. Sering tidak bergejala pada masa anak-anak dan baru terdeteksi saat dewasa. Dapat ditutup dengan kateter atau operasi.
Patent Ductus Arteriosus
Non-Sianotik ~10% kasus PJBPembuluh darah yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonalis tidak menutup setelah lahir. Lebih sering pada bayi prematur. Dapat ditutup dengan obat (indometasin) atau operasi.
Pulmonary Stenosis
Non-Sianotik ~7–10% kasus PJBPenyempitan katup pulmonal yang menghambat aliran darah ke paru-paru. Sering ditangani dengan balon kateter (valvuloplasti balon) tanpa operasi terbuka.
Tetralogy of Fallot
Sianotik ~5–7% kasus PJBKombinasi 4 kelainan: VSD besar, PS, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan. Menyebabkan sianosis dan "serangan biru". Memerlukan operasi koreksi total.
Transposition of the Great Arteries
Sianotik ~3–5% kasus PJBAorta dan arteri pulmonalis terhubung ke ventrikel yang terbalik. Menyebabkan sianosis berat segera setelah lahir. Merupakan kedaruratan bedah — operasi arterial switch biasanya dilakukan dalam 1–2 minggu pertama.
Coarctation of the Aorta
Non-Sianotik ~5–8% kasus PJBPenyempitan aorta yang mengurangi aliran darah ke tubuh bagian bawah, menyebabkan hipertensi di lengan dan tekanan rendah di kaki. Ditangani dengan operasi atau stenting.
Penting untuk Diketahui
Faktor Risiko PJB
Pada sebagian besar kasus (sekitar 90%), penyebab PJB tidak diketahui pasti. Namun beberapa faktor berikut meningkatkan risiko terjadinya PJB.
Faktor Genetik & Kromosom
Sindrom Down (Trisomi 21)
40–50% anak dengan sindrom Down memiliki PJB, terutama VSD dan ASD
Sindrom Turner
Asosiasi kuat dengan CoA dan kelainan katup aorta bikuspid
Sindrom DiGeorge
Sering berkaitan dengan kelainan konotrunkus seperti TOF
Riwayat Keluarga
Risiko meningkat 3–4x jika ada saudara kandung atau orang tua dengan PJB
Faktor dari Ibu
Infeksi Rubella
Infeksi pada trimester pertama dapat menyebabkan berbagai PJB termasuk PDA dan PS
Obat-obatan Teratogenik
Isotretinoin, litium, thalidomide, beberapa antikonvulsan pada trimester pertama
Diabetes Mellitus
DM yang tidak terkontrol meningkatkan risiko PJB 3–5x, terutama TGA dan VSD
Alkohol & Rokok
Konsumsi alkohol berlebihan (fetal alcohol syndrome) dan merokok meningkatkan risiko PJB
Demam Tinggi
Hipertermia maternal pada trimester pertama berpotensi mengganggu perkembangan jantung janin
Penyakit Autoimun
Lupus eritematosus sistemik (LES) berkaitan dengan blok jantung kongenital
Kabar Baik
Apakah PJB Bisa Dicegah?
Sekitar 90% kasus PJB tidak memiliki penyebab yang jelas. Namun faktor risiko yang dapat dimodifikasi perlu diperhatikan.
Gejala & Tanda PJB
Gejala PJB bervariasi tergantung jenis dan tingkat keparahan kelainan. Beberapa anak tidak menunjukkan gejala sama sekali hingga berusia remaja atau dewasa.
Gejala Umum yang Perlu Diwaspadai
Sianosis
Warna kebiruan pada bibir, ujung jari, atau kuku — terutama saat menangis atau beraktivitas
Sesak Napas
Napas cepat atau sulit, terutama saat menyusu atau beraktivitas ringan
Sulit Menyusu
Bayi cepat lelah saat menyusu, berkeringat saat makan, atau tidak mau makan
BB Sulit Naik
Berat badan tidak naik sesuai grafik pertumbuhan meski sudah cukup makan
Detak Tidak Normal
Jantung berdebar, detak tidak teratur, atau terasa berdebar kencang
Mudah Lelah
Cepat kelelahan saat beraktivitas fisik ringan, bermain kurang aktif dari teman sebaya
Pusing/Pingsan
Sering pusing, kepala terasa ringan, atau pingsan terutama setelah aktivitas
Kaki/Perut Bengkak
Edema pada kaki, perut membuncit akibat penumpukan cairan (gagal jantung)
Bising Jantung
Murmur atau bising jantung yang terdengar saat dokter memeriksa dengan stetoskop
Gejala Berdasarkan Usia
Neonatus (0–1 bulan)
- Sianosis sentral (kebiruan pada tubuh)
- Takipnea (napas cepat > 60x/menit)
- Sulit menyusu, berkeringat saat makan
- Tidak mau makan, tangis lemah
Bayi (1–12 bulan)
- BB tidak naik, pertumbuhan terhambat
- Infeksi saluran napas berulang
- Berkeringat saat tidur
- Kaki dan perut membengkak
Anak (1–12 tahun)
- Cepat lelah saat bermain
- Sering jongkok setelah berlari (squatting — khas TOF)
- Sering infeksi paru
- Pertumbuhan lebih lambat dari teman sebaya
Remaja & Dewasa
- Berdebar-debar atau aritmia
- Sesak napas saat aktivitas
- Sinkop (pingsan mendadak)
- Infertilitas atau komplikasi kehamilan (pada perempuan)
Segera ke IGD jika anak mengalami
Bagaimana PJB Didiagnosis?
PJB dapat terdeteksi sebelum lahir (prenatal) maupun setelah lahir. Deteksi dini sangat penting untuk perencanaan penanganan yang tepat.
Diagnosis Prenatal (Sebelum Lahir)
-
Fetal Echocardiography (UK 18–24 minggu)
USG jantung janin — gold standard untuk mendeteksi PJB sebelum lahir
-
USG Obstetri Rutin (UK 18–20 minggu)
Pemeriksaan 4 ruang jantung — dapat mengidentifikasi PJB mayor
-
Amniosentesis (Jika indikasi)
Analisis kromosom untuk mendeteksi sindrom genetik terkait PJB
Diagnosis Postnatal (Setelah Lahir)
-
Pulse Oximetry Screening (24–48 jam setelah lahir)
Skrining saturasi O₂ rutin untuk mendeteksi PJB kritis — wajib di RS
-
Echocardiography (Kapan saja)
USG jantung postnatal — pemeriksaan definitif untuk konfirmasi diagnosis
-
Foto Thorax (Rontgen) (Awal evaluasi)
Menilai ukuran jantung dan vaskularisasi paru
-
EKG (Awal evaluasi)
Mendeteksi aritmia, hipertrofi bilik, dan konduksi abnormal
Pertanyaan Umum tentang Diagnosis
Pengobatan & Perawatan PJB
Penanganan PJB sangat bergantung pada jenis, tingkat keparahan, dan kondisi keseluruhan anak. Pendekatan multidisiplin melibatkan kardiologis pediatri, ahli bedah jantung, dan tim pendukung.
Observasi & Monitoring
Untuk PJB ringan yang mungkin menutup sendiri (VSD kecil, ASD kecil, PDA pada prematur). Pemantauan rutin echocardiography setiap 6–12 bulan.
Penanganan Medis
Obat-obatan untuk mengelola gejala gagal jantung, aritmia, atau mencegah komplikasi. Tidak memperbaiki kelainan struktural tapi mengontrol kondisi.
Intervensi Kateter
Prosedur minimal invasif melalui pembuluh darah (tanpa operasi besar). Pilihan utama untuk beberapa jenis PJB.
Operasi Jantung
Beberapa PJB memerlukan operasi terbuka menggunakan mesin bypass jantung-paru. Operasi bisa bersifat korektif (memperbaiki sepenuhnya) atau paliatif (meningkatkan kondisi sebelum operasi definitif).
Operasi Korektif
Memperbaiki kelainan struktural secara permanen. Contoh: penutupan VSD, koreksi TOF total, operasi arterial switch untuk TGA.
Operasi Paliatif
Prosedur bertahap untuk memperbaiki kondisi sebelum operasi definitif. Contoh: Blalock-Taussig shunt, banding arteri pulmonalis.
Perawatan Jangka Panjang
Kontrol Rutin
Kunjungan rutin ke kardiologis pediatri setiap 6–12 bulan, termasuk echocardiography berkala untuk memantau fungsi jantung.
Aktivitas Fisik
Sebagian besar anak pasca-koreksi PJB dapat beraktivitas normal. Beberapa kondisi memerlukan pembatasan olahraga berat — konsultasikan dengan dokter.
Pencegahan Endokarditis
Beberapa anak memerlukan antibiotik profilaksis sebelum prosedur gigi atau bedah tertentu untuk mencegah endokarditis infektif.
Dukungan Psikologis
Anak dengan PJB dan keluarganya mungkin memerlukan dukungan psikologis. Bergabung dengan komunitas pasien PJB sangat dianjurkan.
Tentang Biaya & Akses Layanan
Pencegahan PJB
Karena sebagian besar PJB tidak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi, pencegahan total tidak selalu memungkinkan. Namun langkah-langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko.
1 Sebelum Kehamilan
2 Selama Kehamilan (Trimester Pertama Paling Kritis)
3 Deteksi Dini Setelah Lahir
Deteksi Dini Menyelamatkan Jiwa
Coba Skrining Online
Isi kuesioner skrining kami untuk mengetahui apakah anak Anda perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Mulai SkriningBergabung dengan Komunitas
Berbagi pengalaman dan dukungan bersama sesama keluarga PJB.
Lihat Komunitas